FENOMENA BUNUH DIRI DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI

on Sabtu, 19 Desember 2009

FENOMENA BUNUH DIRI DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI

Oleh Rizki M Saputra*

Fenomena bunuh diri sudah sangat dekat dengan pikiran kita dan sangat dekat dengan pembicaraan yang identik dengan terorisme, mereka berani-beraninya bunuh diri mengatasnamakan agama, yang mengatakan Jihad, ada juga yang bunuh diri karena motif ekonomi bahkan mereka berani melakukan hal ini karena adanya rasa kekeluargaan pada yang kuat atau rasa persatuan yang mengikat pada individu yang berkaitan sehingga mereka bunuh diri secara masal dirumah mereka ataupun di perkumpulan yang mereka rancang.

Kemudian muncul beberapa pertanyaan yang muncul dari benak kita. Mengapa itu terjadi? Mengapa mereka sampai bunuh diri? Apa motif tujuan dari bunuh diri. Nah Sebenarnya hal ini sudah dibahas dengan tokoh sosiologi yang sangat terkenal sekali dengan karyanya yang sampai saat ini masih eksis yaitu tentang suicide theory dalam bahasa Indonesia dikenal dengan teori bunuh diri.

David Émile Durkheim adalah tokoh sosiologi yang berasal dari Prancis. Beliau bukan saja dari sudut bunuh diri saja menelusuri masyarakat akan tetapi dari sosiologi agama pun ia terkenal. Karena memang ia berasal dari keluarga Rabbi yahudi.

Ada bebarapa unsur penting dari teori yang diungkapkan oleh Durkheim semasa hidupnya dalam ilmu sosiologi khususnya sebagai kajian yang merujuk pada masyarakat . Ini berguna untuk menganalisis fenomena bunuh diri yang sering atau kerap terjadi dimasyarakat sekitar kita dengan berbagai motif alasan bunuh dirinya. Inti teorinya adalah sebagai berikut dalam pembahasan ilmunya.

Bunuh diri egoistis
Egoisme merupakan sikap seseorang yang tidak berintegrasi dengan grupnya, yaitu keluarganya, kelompoknya, rekan, kumpulan agamanya dan sebagainya. Karena ciri orang bunih diri karena egoistis biasanya sangat tertutup dengan orang lain dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pun tidak memerlukan bantuan orang lain. Apabila terjadi masalah yang sangat rumit pada orang tersebut semakin bunuh diri. Nah dengan begitu tersudut oleh sifatnya sendiri yaitu egois maka akan melakukan bunuh diri.

Bunuh diri altruistik
Jika bunuh diri egoistis terjadi karena adanya tekan dari dirinya terhadap masyarakatnya maka untuk bunuh diri altruistik ini terjadi karena adanya rasa kekeluargaan atau rasa kesamaan pada grupnya dan sedimikian berintegrasi, hingga diluar itu ia tidak mempunya indentitas. Dicontohkan suku bangsa di India, dimana soeorang janda membeiarkan membakar diri bersama dengan jenazah suaminya. Ini terbukti karena bunuh diri terjadi adanya ikatan yang kuat dengan anggotanya.

Bunuh diri fatalistik
Bunuh diri fatlistik terjadi karena adanya peraturan yang ada dimasyarakat itu sangat mengikat untuk individu sehingga karena terjadinya konfik pada individu sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri.

Bunuh diri anomi
Bunuh diri yang terjadi karena adanya kekosongan norma atau bisa dikatakan tidak adanya norma-norma yang dapat dipercaya di dalam masyarakat. Bunuh diri ia lakukan karena yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan, dan norma didalam hidupnya. Orang yang bersangkutan pada awalnya sangat memberikan motivasi dan membawa pengaruh dalm setiap tindakannya sedangkan kini sudah tidak ada yang menjadi patokan didalam invidunya sehingga adanya kebingungan untuk berprilaku. Sehingga ia berpikir daripada hidup didunia tidak ada yang mau dicapai lagi sedangkan untuk bergerak tidak ada lagi yang akan ia pedomani lebih baik mengakhiri hidup dengan bunuh diri.Misanya seseorang dalam hidupnya tenaga dan pikirannya dicurahkan untuk kentingan kelurganya dan ketika suatu saat keluaraga tersebut mendapat musibah yang meluluh lantahkan semua harta dan benda mereka bahkan kehilangan orng-orang dicintainya sehingga harapan untuk membangun kekuatan diri tidak ada lagi, semua telah hilang sehingga orang tersebut memutuskan lebih baik bunuh diri daripada tidak ada tujuan hidup lagi.

Bagaimana dengan Indonesia, bunuh diri yang masuk kategori mana, apakah anomi, egoistik, falistik ataupun altruistik. Pada dasarnya bunuh diri yang telah dikelompokkan oleh Durkheim, untuk di Indonesia ada semuanya akan tetapi yang kerap terjadi adalah bunuh diri altruistik dan egoistik .

Kalau bunuh diri yang dikategorikan altruistik ketika adanya bom bunuh diri dimana-mana yang dipelopori oleh Noordin M. Top warga kebangsaan Malaysia yang menggegerkan masyarakat Indonesia. Bagaimana bunuh diri itu terjadi karena adanya ikatan baik mereka merasa ajaran yang dibawa oleh Noordin itu benar sehingga orang-orang asing bisa dikatakan non muslim adalah perusak islam. Nah, setelah diajarkan untuk merakit bom dan dibekali ilmu agama yang menyeleweng dari syariat. Mereka sang pelaku bom bunuh diri pun melaksanakan tugas dengan iming-iming kata Jihad, dengan embel-embel agama mereka berani bunuh diri dengan meledakkan bom.

Sedangkan bunuh diri egoistik yang terjadi belum lama ini dapat dicontohkan dengan bunuh diri di Super Market- Super Market dan juga dengan munculnya film 2012 yang film ini sempat membuat geger para sebagian masyarakat Indonesia seperti bunuh diri setelah mendengar isu tahun 2012 akan kiamat, seorang pria nekat melompat untuk mengakhiri hidupnya dari gedung yang tinggi setelah melakukan sembahyang. Di kabarkan bahwa ia bunuh diri karena telah sakit-sakitan selama hidupnya sedangkan ia hdup menjadi beban kelurganya. Nah dengan motif itu ia lalu melompat karena takut menyusahkan orang lain. Maka ini dapat dikatakan bunuh diri egoistis karena egosime semata ia bunuh diri.

*Mahasiswa Sosiologi FISE UNY

TEORI SOSIOLOGI DALAM ORGANISASI PESAN

on Rabu, 16 Desember 2009

TEORI SOSIOLOGI DALAM ORGANISASI PESAN
Oleh Rizki M Saputra

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Istilah organisasi berasal dari bahasa Latin organizare, yang secara harafiah berarti paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainnya saling bergantung. Di antara para ahli ada yang menyebut paduan itu sistem, ada juga yang menamakannya sarana.
Everet M. Rogers dalam bukunya Communication in Organization, mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan, dan pembagian tugas. Robert Bonnington dalam buku Modern Business: A Systems Approach, mendefinisikan organisasi sebagai sarana dimana manajemen mengoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang kami ambil dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana pengertian komunikasi organisasi?
2. Bagaimanakah pengelompokan suatu organisasi?
3. Bagaimana hubungan antara komunikasi dan organisasi?


BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN KOMUNIKASI ORGANISASI

Golddhaber (1986) memberikan definisi komunikasi organisasi adalah proses penciptaan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah.
Komunikasi organisasi merunjuk pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks dan jarngan organisasi.
Dalam teori-teori organisasi ada dua hal yang mendasar yang dijadikan pedoman:
1. Teori tradisi posisional yang meneliti bagaimana manajemen menggunakan jaringan-jaringan formal untuk mencapai tujuannya.
2. Teori tradisi hubungan antar pribadi yang meneliti bagaimana sebuah organisasi terbentuk melalui interaksi antar individu.
Everet M. Rogers dalam bukunya Communication in Organization, mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan, dan pembagian tugas. Robert Bonnington dalam buku Modern Business: A Systems Approach, mendefinisikan organisasi sebagai sarana dimana manajemen mengoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang.
2. Fungsi komunikasi dalam organisasi
a. Fungsi informative
Organisasi dapat dipandang sebagai sistem proses informasi. Maksudnya seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik, dan tepat waktu.
b. Fungsi Regulatif
Fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Dalam lembaga atau organisasi ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif yaitu atasan dan pesan.
c. Fungsi Persuasif
Banyak pemimpin memersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.
d. Fungsi Integratif
Tiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan yang baik. Ada dua saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut dan laporan kemajuan organisasi.

2.PENGELOMPOKAN ORGANISASI
Max Weber (1964) membuat kategori organisasi menurut jenis wewenang yang dilaksanakan:
1. Organisasi Tradisional
Wewenang ditentukan oleh kebiasaan, serta kepercayaan yang telah lama ada dan tidak perlu dipertanyakan.
2. Organisasi Kharisma
Wewenang diambil dari mutu pribadi pemimpinnya.
3.Organisasi Birokrasi
Wewenang didasrkan pada pengakuan atas aturan-aturan dan prosedur-prosedur.
Katz dan Kahn (1978) mengemukakan sebagai berikut:
o Organisasi Ekonomis, berkaitan dengan penciptaan kesejahteraan, pembuatan barang dan jasa.
o Organisasi Perawatan, yang berkaitan dengan sosialisasi orang untuk melakukan peran, seperti sekolah.
o Organisasi Penyesuian, berkaitan dengan menciptakan pengetahuan mengembangkan dan menguji teori. Contohnya; Univeritas, lembaga riset.
o Organisasi Manajerial dan Politik, berkaitan dengan Perundangundangan, koordinasi, dan pengendalian sumber daya. Contoh; pemerintahan, partai politik, dan seriakt buruh.

3. HUBUNGAN KOMUNIKASI DAN ORGANISASI
Hubungan antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang dipakai, bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan sebagainya. Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk bahan telaah untuk selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu organisasi tertentu berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup organisasi dengan memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi dilancarkan.


Pengaruh Komunikasi Terhadap Perilaku Organisasional
Mengenai hubungan organisasi dengan komunikasi, Wiliam V. Hanney dalam bukunya, Communication and Organizational Behavior, menyatakan, ”Organisasi terdiri atas sejumlah orang; ia melibatkan keadaan saling bergantung; kebergantungan memerlukan koordinasi; koordinasi masyarakat komunikasi. Interaksi yang haromonis diantara karyawan satu organisasi, baik dalam hubungannya secara timbal balik maupun secara horizontal diantara para karyawan secara timbal balik pula, disebabkan oleh komunikasi. Sebagai komunkator, seoarang pemimpin organisasi, manager, atau administrator harus memilih salah satu dari berbagai metode dan teknik komunikasi yang disesuaikan dengan situasi pada waktu komunikasi itu dilancarakan.



BAB III
KESIMPULAN

Telah dijelaskan dari pembahasan maka perlu adanya kesimpulan untuk memudahkan mengambil titik tengah dari jawaban rumusan masalah yaitu berikut pengertian dari komunikasi organisasi proses penciptaan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah. Pengelompokan komunikasi organisasi Weber yaitu tradisional, karismatik, dan birokrasi. Hubungan antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu.

DAFTAR PUSTAKA
Bungin ,Burhan. 2007. Sosiologi Komunikasi. Jakarta : Prenada Media Group.
Effendy, Onong. C. 2003. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya Offset.
Littlejohn, Stephen (1992). Theories of Human Communication (5th Ed). Califonia: Wadsworth Publishing.
McGrraw-Hill Companies . 1994, Teori-Teori Komunikasi, Universitas Terbuka
Muhamad, Arni, (2002), Komunikasi Organisasi, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Sendjaja, S Djuarsa. Teori Komunik

Upaya Pelestarian Budaya Nasional

Upaya Pelestarian Budaya Nasional

A. PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Budaya yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia sangat banyak. Bahkan orang-orang asing sangat tertaik dengan apa yang dimiliki oleh kita.
Sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat sekarang ini telah banyak pengalaman yang diperoleh bangsa kita tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam negara Republik Indonesia, pedoman acuan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara itu adalah nilai-nilai dan norma-norma yang termaktub dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sebagai sumber dan disain bagi terbentuknya kebudayaan nasional.
Warisan budaya tidak bergerak biasanya berada di tempat terbuka dan terdiri dari: situs,tempat-tempat bersejarah, bentang alam darat maupun air, bangunan kuno dan/atau bersejarah, patung-patung pahlawan. Warisan budaya bergerak biasanya berada di dalam ruangan dan terdiri dari: benda warisan budaya, karya seni, arsip,dokumen, dan foto, karya tulis cetak, audiovisual berupa kaset, video, dan film.
Dan yang lebih memprihatinkan lagi, banyak kesenian dan bahasa Nusantara yang dianggap sebagai ekspresi dari bangsa Indonesia akan terancam mati. Sejumlah warisan budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang sendiri telah hilang entah kemana. Padahal warisan budaya tersebut memiliki nilai tinggi dalam membantu keterpurukan bangsa Indonesia pada jaman sekarang.
Sungguh ironis memang apabila ditelaah lebih jauh lagi. Akan tetapi, kita tidak hanya mengeluh dan menonton saja. Sebagai warga negara yang baik, mesti mampu menerapkan dan memberikan contoh kepada anak cucu nantinya, agar kebudayaan yang telah diwariskan secara turun temurun akan tetap ada dan senantiasa menjadi salah satu harta berharga milik bangsa Indonesia yang tidak akan pernah punah.
2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan penjelasan tersebut di latar belakng maka permasalahan yang dibahas dalam makalah ini adalah:
A. Bagaimana upaya kita sebagai warga Indonesia untuk peduli dengan kebudayaan yang kita miliki dari warisan nenek moyang yang telah berabad-abad ditinggalkan pada kita?
B. Sebenarnya apa yang melatar belakangi menurunnya rasa cinta dengan kebudayaan yang kita miliki?
C. Sebenarnya yang membawa kebudayaan kita keluar negeri adalah orang Indonesia atau orang asing yang sengaja ingin menghancurkan Indonesia?
B. PEMBAHASAN
1. SEKILAS TENTANG BUDAYA
Budaya atau Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Berikut adalah pendapat tentang kenudayaan menurut para tokoh :
HERSKOVITS
memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
EDWARD BURNETT TYLOR
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
SELO SOEMARDJAN dan SOELAIMAN SOEMARDI
Kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
2. UPAYA PELESTARIAN BUDAYA
Pelestarian Budaya Lokal
Beragam wujud warisan budaya lokal memberi kita kesempatan untuk mempelajari kearifan lokal dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi di masa lalu. Masalahnya kearifan lokal tersebut seringkali diabaikan, dianggap tidak ada relevansinya dengan masa sekarang apalagi masa depan. Dampaknya adalah banyak warisan budaya yang lapuk dimakan usia, terlantar, terabaikan bahkan dilecehkan keberadaannya. Padahal banyak bangsa yang kurang kuat sejarahnya justru mencari-cari jatidirinya dari tinggalan sejarah dan warisan budayanya yang sedikit jumlahnya.
Kita sendiri, bangsa Indonesia, yang kaya dengan warisan budaya justru mengabaikan asset yang tidak ternilai tersebut.Sungguh kondisi yang kontradiktif. Kita sebagai bangsa dengan jejak perjalanan sejarah yang panjang sehingga kaya dengan keanekaragaman budaya lokal seharusnya mati-matian melestarikan warisan budaya yang sampai kepada kita. Melestarikan tidak berarti membuat sesuatu menjadi awet dan tidak mungkin punah. Melestarikan berarti memelihara untuk waktu yang sangat lama. Jadi upaya pelestarian warisan budaya lokal berarti upaya memelihara warisan budaya lokal untuk waktu yang sangat lama. Karena upaya pelestarian merupakan upaya memelihara untuk waktu yang sangat lama maka perlu dikembangkan pelestarian sebagai upaya yang berkelanjutan (sustainable).
3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUDAYAAN
Beberapa faktor yang mempengaruhi kebudayaan secara garis besar adalah :
a) Faktor kitaran (lingkungan hidup, geografis mileu) faktor lingkungan fisik lokasi geografis merupakan suatu corak budaya sekelompok masyarakat;
b) Faktor induk bangsa ada dua pandangan berbeda mengenai faktor induk bangsa ini, yaitu pandangan barat dan pandangan timur. Pandangan barat berpendapat bahwa perbedaan induk bangsa dari beberapa kelompok masyarakat mempunyai pengaru terhadap suatu corak kebudayaan. Berdasarkan pandangan barat umumnya tingkat cauca soit dianggap lebih tinggi dari pada bangsa lain,yaitu mingloid dan negroid.
c) Faktor saling kontak antar bangsa. Hubungan antar bangsa yang makin mudah akibat sarana perhubungan yang makin sempurna menebabkan satu bangsa mudah berhubungan dengan bangs lain.
4. MASALAH DALAM KEBUDAYAAN NASIONAL
Masalah dalam Kebudayaan Nasional Indonesia saat ini adalah tidak sesuainya perilaku dengan gagasan atau ide nasioan yang dibangun. Sebagai contoh, Pancasila dan UUD 45 sebagai pandangan hidup dan dasar negara beserta normatifnya sudah bagus, tetapi di lapangan aktivitas sehari-hari justru kerap tidak sejalan. Lain dalam tataran gagasan lain dalam tataran perilaku. Contoh nyata masalah penghargaan kepada kebhinekaan atau pluralitas atau kemajemukan.
Kita sepakat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang pluralis dalam segala hal. Normatifnya penghargaan kita terhadap kebhinekaan totalitas, artinya tidak ada satu kelompok pun, apakah itu karena faktor etnis atau budaya atau agama yang dipinggirkan. Namun penghargaan tersebut dalam tingkatan aktivitas tidak demikian. Masih kerap kita dengar etnis tertentu, penganut agama tertentu, aksesnya ke bidang-bidang tertentu dimarjinalkan, dipinggirkan, dijadikan warganegara kelas 2 atau kelas 3, hanya faktor karena etnis, faktor agama dan lainnya.
Alasan peminggiran karena faktor agama, karena tidak sesuai dengan ajaran agama yang sedang dianut. Penyesuaian ini dikatakan karena Tuhan mensyaratkan demikian. Tetapi bila ditanya mana bukti material Tuhan mengatakan demikian tidak pernah ada. Artinya belum pernah ada mandat yang diberikan Tuhan secara faktual kepada manusia untuk mewakili diri Nya sebagai pencipta, yang ada hanyalah mandat non material.
Mandat seperti ini susah membuktikannya karena lebih banyak berdasarkan mimpi atau tafsiran atau pengkultusan, sementara di sisi lain, material kehidupan tidak seperti itu, karena material kehidupan ini adalah faktual, seharusnya tidak perlu terjadi pemarjinalan karena faktor agama tersebut. Idealnya memang demikian, kenyataannya tidak demikian. Inilah contoh perilaku kelompok tertentu di Indonesia yang tidak sesuai dengan Kebudayaan Nasional Indonesia, baik dalam tingkat gagasan, maupun material, sebab tidak ada undang-undang produk Indonesia yang berisi diskriminatif tersebut. Tetapi budaya politik yang dikembangkan bersifat diskriminatif.

Perilaku korupsi, bermental atau berkarakter monyet, menunggangi masyarakat untuk kepentingan yang tidak sesuai dengan kemajemukan Indonesia adalah beberapa perilaku yang belum sesuai dengan Kebudayaan Nasional Indonesia dari sisi gagasan.
5. SARAN UNTUK MEMPERTAHANKAN BUDAYA NASIONAL
Ada beberapa sarana untuk memepertahankan kebudayaan yang ada di Indonesia sebagai khazanah bangsa kita.
Saran yang paling mudah untuk mempertahankan kebudayaan agar lebih baik lagi sehingga dapat dikenal bahwa ini adalah hasil kebudayaan yang kita miliki dari nenek moyang. Seperti berikut ini :
MELALUI LAYAR KACA
Menurut Drs. Tashadi, peneliti Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta bahwa dalam budaya tradisional terkandung nilai-nilai luhur pembentuk jati diri bangsa. Ketika nilai-nilai ini hilang dan tidak lagi dimengerti oleh generasi muda maka mereka hanya akan memiliki nilai-nilai global, dan hilanglah jati diri bangsa Indonesia ini.
MELALUI SANGGAR-SANGGAR BUDAYA
Walau tidak mudah upaya-upaya pelestarian budaya kita harus tetap gencar dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah pementasan-pementasan seni budaya tradisional di berbagai pusat kebudayaan atau tempat umum yang dilakukan secara berkesinambungan. Upaya pelestarian itu akan berjalan sukses apabila didukung oleh berbagai pihak termasuk pemerintah dan adanya sosialisasi luas dari media massa termasuk televisi. Maka cepat atau lambat, budaya tradisional kembali akan bergairah.
Dengan demikian maka kebudayaan yang telah ditelurkan akan selalu diingat dan di minati oleh para generasi penerus bangsa, sehingga kita mempunyai ciri kebudayaan yang berbeda dengan bangsa lain walaupun pengaruh globalisasi sangat besar sekali, yang kadang-kadang mengancam kebudayaan yang dimiliki dari setiap bangsa.
MELALUI PELATIHAN dan SEMINAR
Dengan diadakannya seminar serta pelatiahan-pelatiahan tentang kebudayaan misalnya dengan seni tari maka disaat pelatihan itu akan diadakan sosialisasi tari kebudayaan setempat misalnya cara gerak gerik dlm memainkan tari tersebut bagaimana.
MELALUI BUKU-BUKU
Dengan adanya buku –buku yang mendukung akan kebaikan bagi para generasi selanjutnya seperti buku kebudayaan asal provinsi yang ada di Indonesia. Maka para generasi kita tidak akanlupa kebudayaan yang sebanyak itu dari Sabang sampai Merauke. Yang sangat banyak sekali suku bahkah dalam satu provinsi memiliki berbagai bahasa. Contohnya di Jawa Tengah ada yang Jawa Ngapak, Jawa Solo dan Jawa Yogya, itu sangat terlihat sekali perbedaanya dari logak bahasa dan arti penggunaan bahasa. Sehingga itu perlu adanya yang suatu buku yang membantu mengungkap perbedaan itu. Karena berbeda manjadi khassanah yang sangat unik.
CARA MEMPERTAHANKAN KEBUDAYAAN
Pelestarian tidak akan dapat bertahan dan berkembang jika tidak didukung oleh masyarakat luas dan tidak menjadi bagian nyata dari kehidupan kita. Para pakar pelestarian harus turun dari menara gadingnya dan merangkul masyarakat menjadi pecinta pelestarian yang bergairah. Pelestarian jangan hanya tinggal dalam buku tebal disertasi para doktor, jangan hanya diperbincangkan dalam seminar para intelektual di hotel mewah, apalagi hanya menjadi hobi para orang kaya. Pelestarian harus hidup dan berkembang di masyarakat. Pelestarian harus diperjuangkan oleh masyarakat luas.
Menurut Prof. Dr. Edi Sedyawati, mantan Dirjen Kebudayaan, harus ada perlindungan budaya yang lebih jelas maka diperlukan sebuah undang-undang yang khusus untuk perlindungan karya budaya tradisional.
C. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan maka dapat diambil sebuah simpulan serta menawab pertanyaan dari rumusan masalah sehingga jawaban yang bisa diteruskan adalah kebudayaan yang telah ada sebenarnya itu akan tetap bertahan menjadi kebudayaan yang utuh apabila kita mengakui dan melestarikan kebudayaan yang kita akui. Maka itu akan mustahil diakui oleh bangsa lain karena mereka tahu bahwa ini adalah indentitas bangsa Indonesia namun bila kita tidak mengakui atau pun tidak mengklaim secara utuh. Yang terjadi seperti saat ini kebudayaan kita banyak diakaui oleh negara tetangga.
Yang sebenarnya melatarbelakangi menurunya rasa cinta kepada kebudayaan sendiri khususnya para generasi pemuda saat ini yang telah banyak menyenai dan mengaggap kebudayaan sendiri padahal itu adalah bukan ciri dari kebudayaan kita. Misalnya cara makan yang bediri pada suatu acara padahal kebudayaan yang kita miliki bukan seperti itu.
Sebenarnya yang membuat kebudayaan yang kita punya berada pada negara lain dikarenakan banyak hal seperti orang Indonesia yang membawa keluar negeri namun dengan dasar untuk meperkenalkan tetapi ada orang yang mencuriakan hal itu seperti Reog Ponorogo yang ada di Malaysia dengan nama Barong.
Sehingga yang perlu mempertahankan kebudayaan adalah kita sendiri dan untuk mengembangkan serta mempertahankan kebudayaan banyak cara yang sangat efektif untuk kedepannya dari layar kaca, sanggar pelatihan serta buku-bukuk yang mendukung, maka dari itu perlu adanya perhatian dari diri dan bangsa Indonesia khususnya.

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKAN

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Oleh Prof. Dr. Farida Hanum, M. Si
Pendidikan Multikultural dan Perilaku Bangsa
Nieto mengatakan penting seklai kajian tentang budaya yang dapat mempengaruhi kegitan belajar agar mendapatkan prestasi belajar yang baik.
Jika dilihat dari kehidupan yang multicultural, pemahaman yang berdimensi multikultural harus hadir untuk memperluas wacana pemikiran yang selama ini masih mempertahankan egoism, kebudayaan, agama, kelompok. Menjaga prulalitas kebudayaan atau keragaman budaya merupakan interaksi sosial dan politik antara orang-orang yang berbeda cara hidup dan berpikir dalam suatu masyarakat. Karena hal ini akan menolak kefanatikan terhadap kebudayaan lain. Tujuan utamanya adalah untuk mengubah struktur lembaga pendidikan supaya siswa dengan bermacam-macam latar belakang akan memiliki kesempatan dalam meningkatkan pendidikannya.
Howard mengatakan bahwa pendidikan multikultural memberi kompetensi multicultural. Dahulu siswa diawal itu selalu dengan adanya pengaruh dari budayanya masing-masing. Oleh karena itu maka, perlunya sosialisasi tentang pendidikan multikultural sejak dini. Dengan begitu maka masyrakat akan bias memahami adanya perbedaaan kebudayaan atau kultur antar sesama masyarakat Indonesia. Karena ini akan berdampak pada usage, folkways, mores, dan costums.
Musa Asya’rie pendidikan multikultural bermakna sebagai proses pendidikan cara menghormati, tulus, toleran terhadap kebudayaan lainnya.
Fay mengemukakan multikulturalisme menunjukkan suatu yang krusial dalam dunia kontemporer. Dalam dunia multikultural harus mementingkan adanya perbedaaan antar satu dengan yang lainnya.
Banks pendidikan multikultural merupakan suatu rangkaian kepercayaaan dan penjelasan yang mengakaui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis si dalam membentuk gaya hidup, pengalamn sosial, indentitas pribadi, kesempatan pendidikan bagi individu.
Perkembangan Multikultural di AS dan Luar AS
Pendidikan multikultural, di sini sudah berkembang sejak lama. Dengan strategi pendidikan multikultural adalah pengembangan dari studi interkultural dan multikulturalisme.
Akan tetapi perkembangannya itu merupakan tujuan politis ini menipis dan bahkan hilang sama sekali. Karena bersifat humanism, demokratis. Selanjutnya pendidikan multikultural ini justru menjadi motor penggerak dan untuk diterapkan di kampus, sekolah-sekolah dan institusi-institusi pendidikan. Perkembangannya pun semakin baik pada tahun 1960 an yang pertama kali di ungkapkan oleh Banks.
Pada saat itu, perkembangan pendidikan multicultural lebih pada kulit putih di AS dan didiskriminasi oleh kulit hitam.
Pendidikan multikultural sekarang berkembang di dalam masyarakat Amerika bersifat antarbudaya etnis yang besar, yaitu budaya antarbangsa. Terdapat empat jenis dan perkembangann pendidikan multikultural di Amerika yaitu (1). Pendidikan yang bersifat segregasi yang memberikan hak berbeda antara kulit putih dan kulit hitam; (2) pendidikan menurut konsep Salad Bowl; (3) konsep melting pot; (4) pendidikan multikultural melahirkan suatu pedagogik.
Inggris, pendidikan multikultural berkembang berjalan sesuia dengan datangnya para imigran, yang mendapat perlakukan diskriminatif oleh pemerintah dan kaum mayoritas. Sehingga muncul gerakan yang berlatar belakang budaya.
Jerman, Kanada dan Australia sama halnya yang terjadi di Inggris dan AS.
Pendidikan Multikultural di Indonesia
Kondisi masyarakat Indonesia sangat beragam dan masyarakatnya pun tinggal di wilayah yang berbeda-beda yang dipisahkan dengan jarak yang sangat jauh. Sehingga untuk mengakses dari berbagai konsep pendidikan pun akan terhambat. Apalagi ditambah dengan konseppemerintahan yang masih kurang dan membutuhkan pemberian konsep dalam pembaharuan dari pemerintahan yang belum tersuswun dengan baik. Pendidikan multikultural sangat menekankan pentingnya akomondasi hak setiap kebudayaan dan masyarakat dan sub-nasional untuk memlihara dan mempertahankan indentitas kebudayaan dan masyarakat nasional.
Perspektif dan Tujuan Pendidikan Multikultural
Robinson menyampaikan bahwa ada tiga perspektif multikulturalsme di dalam sistem pendidikan: (1) perspektif cultural assimilation, (2) perspektif cultural pluralism (3) perspektif cultural synthesis.
Pilihan perspektif pendidikan sintesis multikultural memiliki rasional yang paling dasar di dalam hakekat tujuan suatu pendidikan multikultural, yang dapat diindentifikasikan memalui tiga tujuan yaitu atitudinal, kognitif, dan intruksional.
Implementasi Pendidikan Multikultural
Banks mengemukakan empat pendekatan yang mengintegrasikan materi pendidikan multikultural ke dalam kurikulum maupun pembelajaran di sekolah yang bila dicermati relevan untuk diimplekaskan di Indonesia.
1. Pendekatan Kontribusi (the contributions Approach )
2. Pendekatan Aditif ( the Aditif Approach)
3. Pendekatan Transformasi ( the transformation Approach)
4. Pendekatan Aksi Sosial ( the Social Action Approach)

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
Oleh Prof. Dr. H. Abdul Munir Mulkhan, SU
Pendidikan Multikultural ialah upaya menumbuhan kesadaran pentingnya perbedaaan yang memang dibawa sejak lahir atau tumbuh dari interkasi sosial. Paulo Freire pernah mengajukan mengajukan kritik tentang praktik pendidikan yang menempatkan guru sebagai gudang ilmu dimana murid sebagai kreditor.
Pendidikan Kreatif
Pendidikan memiliki siasat untuk membeljarkan pola-pola perubahan dengan adanya hal pendidikan kreatif dalam pendidikan perlu adanya pertumbuhan nilai-nilai dengan berbagai aspek.
Pendidikan Multikultural
Pendidikan monokultural dengan mengabaikan keunikan dan prulalitas saperti yang selama ini dijalankan, karena akan menahan pertumbuhan kritis dan pribadi yang kreatif. Dengan akibat yang luas yaitu pengaruh pada jalan pemikiran dari masyarakat kita saaat ini yaitu dari hanya pada hal yang tunggal sehingga masalah-masalah yang muncul akan menjadi sulit untuk diselesaikan. Permasalahan yang sederhana namun akhirnya menjadi proporsional.
Keunikan tradisi lokal dan pengalaman keagamaaan tidak ditempatkan sebagai akar kebangasaan. Kebijakan politik kenegaraan lebih bersumber dari konsep kebangsaan nasionalitas berdasarkan ide monokultural.
Keber-liyan-an (Otherness)
Keber-liyan-an (Otherness) lebih penting dari homoginitas keseragaman dimana seseorang hanya penting jika dibedakan dari orang lain.
Pendidikan multikultural mengandaikan sekolah dikelola sebagai simulasi arena hidup nyata yang plural, berkembang dan berubah. Sekolah dan kelas sebagai wahana belajar dengan pemeran utamannya adalah peserta didik di saat guru dan seluruh tenaga pengajar sebagai fasilitator.
Pendidikan multikultural didasari ide kebermaknaan keberliyanan tiap orang dan masyarakat. Kelas disusun dengan anggota yang kian kecil hingga tiap peserta didik memperoleh peluang belajar semakin besar sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif. Guru bukan actor tunggal tetapi sebagai fasilitator dalam kegiatan asanbelajar namun kadang kalanya guru wajib menciptakan suasana nyaman dari tiap belajar. Kelas bertujuan untuk mengembangkan peluang diri siswa bukan untuk membungkam dari keinginan siswa dalam pengemngan diri.
Gagasan pendidikan multikultural bersumber prindip martabat keunikan dari tiap peserta didik. Pendidikan formal diletakkan dalam ide deschooling Ivan Illinch seperti demokrasi yang meletakkan suara rakyat sebagai suara Tuhan.

Festival Bulan Bahasa Indonesia (FALASINDO) 2009 - Agenda - Melayu Online

on Selasa, 10 November 2009

Festival Bulan Bahasa Indonesia (FALASINDO) 2009 - Agenda - Melayu Online

KONSEP DASAR KOMUNIKASI SOSIAL BUDAYA

on Selasa, 27 Oktober 2009

KONSEP DASAR KOMUNIKASI SOSIAL BUDAYA
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah komunikasi sosial budaya dengan kajian mengenai konsep komunikasi sosial budaya yang menitik beratkan pada pengertian komunikasi dengan dosen pengampu ibu Puji Lestari,M. Hum



DISUSUN OLEH
PRI ROHMAWATI 08413244017
SUKMA ADY CHANDRA 08413244028
NIKE RIKA RISNEWATI 08413244035
RIZKI M SAPUTRA 08413244039
MAULIDA MASYITOH 08413244051

PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2009


DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
BAB II PEMBAHASAN
BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA















BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pengertian komunikasi sudah banyak didefinisikan oleh banyak orang, jumlahnya sebanyak orang yang mendifinisikannya. Dari banyak pengertian tersebut jika dianalisis pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik.
Maka komunikasi yang dibentuk dalam suatu masyarakat sangat penting sekali karena ini akan mempengaruhi terhadap perkembangan kehidupan yang selanjutnya, kita bisa lihat dalam kehidupan perkotaan yang sangat individualism bila dibandingkan dengan kehidupan di masyarakat desa yang sangat biak dalam kehidupannya. Kalau dilihat dari tingkat pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat kota dengan masyarakat desa yang hanya menempuh pendidikan sebagian besar hanya sampai pada sekolah menengah saja sedangkan yang kota sampai perguruan tinggi.
Dan dengan begitu maka komunikasi yang terbentuk sangatlah penting artinya dalam kehidupan bermasayarakat. Setelah mengetahui konsep-konsep yang telah terbentuk dalam masyarakat yang akan kami kupas dalam makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari Latar belakang yang dipaparkan diatas maka dapat dirumuskan suatu masalah mengenai arti penting Komunikasi Sosial Budaya yang antara lain :
1. Apa definisi dari komunikasi ?
2. Apakah ada konsep yang terbentuk dalam komunikasi?
3. Hambatan apa yang menyebabkan sulinya komunikasi terbentuk?




BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KOMUNIKASI
1. Secara Umum
Komunikasi secara umum dapat dillihat dari dua segi:
a. Secara Etimologis
Secara etimologis , komunikasi berasal dari bahasa Latin Communicatio, dan kata ini bersumber dari kata Communis. Communnis artinya Sama, dalam ari kata Sama makna, yaitu sama makna mengenai suatu hal.
Jadi, komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang akan di komunikasikan.
b. Secara Terminologis
Komunikasi berarti proses penyampaian suatu peryataan oleh seseorang kepada orang lain.
2. Secara Paradigmatis
Dalam pengerian paradigmatitis dikatakan bahwa adanya pertemuan antara dua orang yang saling berinteraksi. Dalam pengertian ini maka ada tujuan yang mengandung secara lisan,tatap muka, atau pun melalui media baik media surat kabar maupun media non massa, misalnya telepon, surat dan papan pengumuman.
Sehingga dari pengertian paragdigmatis bias dikatakan bersifat Intensional (intentional), mengandung tujuan, oleh karena itu perlu adanya perencanaan.
Maka dapat disimpulkan untuk menampilkan makna yang hakiki, yaitu
Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memeberi tahu atau untuk menguabah sikap,pendapat, atau perilaku, baik secara lisan maupun disampaikan dengan media.
B. PROSES KOMUNIKASI
Dari pengertian komunikasi sebagaimana diutarakan di atas, tampak ada-nya sejumlah komponen atau unsur yang dicakup, yang merupakan persyaratan terjadinya komunikasi. Dalam “ bahasa komunikasi ” komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut: - komunikator - orang yang menyampaikan pesan; - pesan - pernyataan yang didukung oleh lambang; - komunikan - orang yang menerima pesan; - media - sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya; - efek - dampak sebagai pengaruh dari pesan. Teknik berkomunikasi adalah cara atau “ seni ” penyampaian suatu pesan yang dilakukan seorang komunikator sedemikian rupa, sehingga menimbulkan dampak tertentu pada komunikan.
Pesan yang disampaikan komunikator adalah pemyataan sebagai paduan pikiran dan perasaan, dapat berupa ide, informasi, keluhan, keyakinan, imbauan, anjuran, dan sebagainya. Pernyataan tersebut dibawakan oleh lambang, umumnya bahasa. Dikatakan bahwa umumnya bahasa yang dipergunakan untuk menyalurkan pemyataan itu, sebab ada juga lambang lain yang dipergunakan, antara lain kial - yakni gerakan anggota tubuh - gambar, warna, dan sebagainya. Melambaikan tangan, mengedipkan mata, mencibirkan bibir, atau menganggukkan kepala adalah tanda yang merupakan lambang untuk menunjukkan perasaan atau pikiran seseorang.

Gbr. Proses Komunikasi dalam Masyarakat.
Gambar, apakah itu foto, lukisan, sketsa, karikatur, diagram, grafik, atau lain-lainnya, adalah lambang yangbiasa digunakan untuk menyampaikan pemyataan seseorang. Demikian pula warna, seperti pada lampu lalu lintas: merah berarti berhenti, kuning berarti siap, dan hijau berarti berjalan; kesemuanya itu lambang yang dipergunakan polisi lalu lintas untuk menyampaikan instruksi kepada para pemakai jalan. Di antara sekian banyak lambang yang bisa digunakan dalam komunikasi adalah bahasa, sebab bahasa dapat menunjukkan pemyataan seseorang mengenai hal-hal, selain yang kongkret juga yang abstrak, baik yang terjadi saat sekarang maupun waktu yang lalu dan masa yang akan datang. Tidak demikian kemampuan lambang-lambang lainnya.Yang penting dalam komunikasi ialah bagaimana caranya agar suatu pesan yang disampaikan komunikator itu menimbulkan dampak atau efek tertentu pada komunikan. Dampak yang ditimbulkan dapat diklasifikasikan menurut kadarnya, yakni: a. dampak kognitif, b. dampak afektif, c. dampak behavioral. Dampak kognitif adalah yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya. Di sini pesan yang disampaikan komunikator ditujukan kepada pikiran si komunikan. Dengan lain perkataan, tujuan komunikator hanyalah berkisar pada upaya mengubah pikiran diri komunikan. Dampak afektif lebih tinggi kadarnya daripada dampak kognitif. Di sini tujuan komunikator bukan hanya sekadar supaya komunikan tahu, tetapi tergerak hatinya; menimbulkan perasaan tertentu, misalnya perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah, dan sebagainya.
Yang paling tinggi kadarnya adalah dampak behavioral, yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan, atau kegiatan.










Gambar berikut menggambarkan apa yang dapat kita namakan model universal komunikasi. Ini mengandung elemen-elemen yang ada dalam setiap tindak komunikasi, terlepas dari apakah itu bersifat intrapribadi, antarpribadi, kelompok kecil, pidato terbuka, atau komunikasi masa.

C. KOMPONEN KOMUNIKASI
a. Lingkungan komunikasi
Lingkungan (konteks) komunikasi setidak-tidaknya memiliki tiga dimensi:
1. Fisik, adalah ruang dimana komunikasi berlangsung yang nyata atau berwujud.
2. Sosial-psikoilogis, meliputi, misalnya tata hubungan status di antara mereka yang terlibat, peran yang dijalankan orang, serta aturan budaya masyarakat di mana mereka berkomunikasi. Lingkungan atau konteks ini juga mencakup rasa persahabatan atau permusuhan, formalitas atau informalitas, serius atau senda gurau,
3. Temporal (waktu), mencakup waktu dalam hitungan jam, hari, atau sejarah dimana komunikasi berlangsung.

Ketiga dimensi lingkungan ini saling berinteraksi; masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Sebagai contoh, terlambat memenuhi janji dengan seseorang (dimensi temporal), dapat mengakibatkan berubahnya suasana persahabatan-permusuhan (dimensi sosial-psikologis), yang kemudian dapat menyebabkan perubahan kedekatan fisik dan pemilihan rumah makan untuk makan malam (dimensi fisik). Perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan banyak perubahan lain. Proses komunikasi tidak pernah statis.
b. Sumber-Penerima
Kita menggunakan istilah sumber-penerima sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasi adalah sumber (atau pembicara) sekaligus penerima (atau pendengar). Anda mengirimkan pesan ketika anda berbicara, menulis, atau memberikan isyarat tubuh. Anda menerima pesan dengan mendengarkan, membaca, membaui, dan sebagainya.
Tetapi, ketika anda mengirimkan pesan, anda juga menerima pesan. Anda menerima pesan anda sendiri (anda mendengar diri sendiri, merasakan gerakan anda sendiri, dan melihat banyak isyarat tubuh anda sendiri) dan anda menerima pesan dari orang lain (secara visual, melalui pendengaran, atau bahkan melalui rabaan dan penciuman). Ketika anda berbicara dengan orang lain, anda memandangnya untuk mendapatkan tanggapan (untuk mendapatkan dukungan, pengertian, simpati, persetujuan, dan sebagainya). Ketika anda menyerap isyarat-isyarat non-verbal ini, anda menjalankan fungsi penerima.
c. Enkoding-Dekoding
Dalam ilmu komunikasi kita menamai tindakan menghasilkan pesan (misalnya, berbicara atau menulis) sebagai enkoding (encoding). Dengan menuangkan gagasan-gagasan kita ke dalam gelombang suara atau ke atas selembar kertas, kita menjelmakan gagasan-gagasan tadi ke dalam kode tertentu. Jadi, kita melakukan enkoding.
Kita menamai tindakan menerima pesan (misalnya, mendengarkan atau membaca) sebagai dekoding (decoding). Dengan menerjemahkan gelombang suara atau kata-kata di atas kertas menjadi gagasan, anda menguraikan kode tadi. Jadi, anda melakukan dekoding.
Oleh karenanya kita menamai pembicara atau penulis sebagai enkoder (encoder), dan pendengar atau pembaca sebagai dekoder (decoder). Seperti halnya sumber-penerima, kita menuliskan enkoding-dekoding sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa anda menjalankan fungsi-fungsi ini secara simultan. Ketika anda berbicara (enkoding), anda juga menyerap tanggapan dari pendengar (dekoding).
c. Kompetensi Komunikasi
Kompetensi komunikasi mengacu pada kemampuan anda untuk berkomunikasi secara efektif (Spitzberg dan Cupach, 1989). Kompetensi ini mencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesan komunikasi (misalnya, pengetahuan bahwa suatu topik mungkin layak dikomunikasikan kepada pendengar tertentu di lingkungan tertentu, tetapi mungkin tidak layak bagi pendengar dan lingkungan yang lain). Pengetabuan tentang tatacara perilaku nonverbal (misalnya kepatutan sentuhan, suara yang keras, serta kedekatan fisik) juga merupakan bagian dari kompetensi komunikasi.
Dengan meningkatkan kompetensi anda, anda akan mempunyai banyak pilihan berperilaku. Makin banyak anda tahu tentang komunikasi (artinya, makin tinggi kompetensi anda), makin banyak pilihan, yang anda punyai untuk melakukan komunikasi sehari-hari. Proses ini serupa dengan proses mempelajari perbendaharaan kata: Makin banyak kata anda ketahui (artinya, makin tinggi kompetensi perbendaharaan kata anda), makin banyak cara yang anda miliki untuk mengungkapkan diri.
e. Pesan
Pesan komunikasi dapat mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan menerima pesan ini melalui salah satu atau kombinasi tertentu dari panca indra kita. Walaupun biasanya kita menganggap pesan selalu dalam bentuk verbal (lisan atau tertulis), ini bukanlah satu-satunya jenis pesan. Kita juga berkomunikasi secara nonverbal (tanpa kata). Sebagai contoh, busana yang kita kenakan, seperti juga cara kita berjalan, berjabatan tangan, menggelengkan kepala, menyisir rambut, duduk, dan. tersenyum. Pendeknya, segala hal yang kita ungkapkan dalam melakukan komunikasi.
f. Saluran
Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali komunikasi berlangsung melalui hanya satu saluran, kita menggunakan dua, tiga, atau empat saluran yang berbeda secara simultan. Sebagai contoh, dalam interaksi tatap muka kita berbicara dan mendengarkan (saluran suara), tetapi kita juga memberikan isyarat tubuh dan menerima isyarat ini secara visual (saluran visual). Kita juga memancarkan dan mencium bau-bauan (saluran olfaktori). Seringkali kita saling menyentuh, ini pun komunikasi (saluran taktil).
g. Umpan Balik
Umpan balik adalah informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya. Umpan balik dapat berasal dari anda sendiri atau dari orang lain. Dalam diagram universal komunikasi tanda panah dari satu sumber-penerima ke sumber-penerima yang lain dalam kedua arah adalah umpan balik. Bila anda menyampaikan pesan misalnya, dengan cara berbicara kepada orang lain anda juga mendengar diri anda sendiri. Artinya, anda menerima umpan balik dari pesan anda sendiri. Anda mendengar apa yang anda katakan, anda merasakan gerakan anda, anda melihat apa yang anda tulis.
Selain umpan balik sendiri ini, anda menerima umpan balik dari orang lain. Umpan balik ini dapat datang dalam berbagai bentuk: Kerutan dahi atau senyuman, anggukan atau gelengan kepala, tepukan di bahu atau tamparan di pipi, semuanya adalah bentuk umpan balik.
h. Gangguan
Gangguan (noise) adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Gangguan menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi bila ini membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima.
D. FUNGSI DAN TUJUAN KOMUNIKASI
Harol D. Lasswell
The surveillance of the environment, fungsi komunikasi adalah untuk mengumpulkan dan menyebarkan informasi mengenai kejadian dalam suatu lingkungan (kalau dalam media massa hal ini sebagai penggarapan berita).
The correlation of correlation of the parts of society in responding to the environment, dalam hal ini fungsi komunikasi mencakup interpretasi terhadap informasi mengenai lingkungan (disini dapat diidentifikasi sebagai tajuk rencana atau propaganda).
The transmission of the social heritage from one generation to the next, dalam hal ini transmission of culture difocuskan kepada kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain.
Onong Uchjana Effendi
Dimensi-dimensi Komunikasi mempunyai pendapat sebagai berikut :
Public Information
Publik Education
Publik Persuasion
Publik Entertainment
Dimensi – dimensi Komunikasi tujuan komunikasi adalah sebagai berikut:
Social Change / Social Participation.
Attitude Change.
Opinion Change
Behaviour Change
Dan B. Curtis
Dalam buku Komunikasi Bisnis Profesional sebagai berikut :Memberikan informasi, kepada para klien, kolega, bawahan dan penyelia (supervisor).
E. PENGARUH BUDAYA DLM KOMUNIKASI
 Perbedaan Budaya akan mempengaruhi keefektifan dlm berkomunikasi
 Perbedaan Bahasa dapat pula mempengaruhi keefektifan Komunikasi
F. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELANCARAN/ HAMBATAN BERKOMUNIKASI
I. Pengetahuan
II. Pengalaman
III. Intelegensi
IV. Kepribadian
V. Budaya
VI. Biologis; kelainan mulut, gagap, cadel
G. JARAK INDIVIDU DLM KOMUNIKASI
• The Intimate Zone (Jarak Komunikasi 6-18 inc/15-45cm)
 Bicara dengan teman dekat
• The Personal Zone (jarak Komunikasi 18-48 inc/45-120cm)
 Bicara keg. Sosial dengan Teman yg kita kenal baik
• The Sosial Zone (Jarak Komunikasi 4-12 feet/1,5-3,5m)
 Bicara dengan orang asing
• The Public Zone (Jarak Komunikasi >12 feet/diatas 3,5m)
 Bicara dengan pendengar => Kelompok.
H. PROBLEMATIKA KOMUNIKASI SOSIAL BUDAYA
Menelaah komunikasi sosial budaya dengan pendekatan komunikologis dalam masyarakat Indonesia, harus melihat dalam dimensi-dimensi das sein, das sollen, dan das Wollen, serta dalam ruang lingkup makro, meso, dan mikro, sebagaimana disinggung di muka, yang memang merupakan suatu entitas sosial budaya.















BAB III
KESIMPULAN
KOMUNIKASI SOSIAL BUDAYA
Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan non verbal. Perilaku verbal merupakan komunikasi yang diungkapkan oleh ucapan,kata-kata,kalimat yang tertulis. Non verbal merupakan komunikasi yang diungkapkan melalui isyarat atau lambang.
Dengan mempelajari komunikasi sosial budaya diharapkan :
a) Memahami bgaimana perbedaan budaya mempengaruhi praktik komunikasi.
b) Mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang muncul dalam komunikasi antar budaya.
c) Meningkatkan ketrampilan verbal dan nonverbal dlm berkomunikasi.
d) Menjadikan kita mampu berkomunikasi efektif.

Agar dapat berkomunikasi secara efektif diperlukan :
a) Kemampuan memahami arti pesan verbal maupun nonverbal.
b) Kemampuan beradaptasi pada budaya yang relevan.
c) Memahami budaya merupakan upaya untuk berkomunikasi efektif.
Komunikasi antar budaya sangat penting bagi seorang pendidik dalam kegiatan belajar mengajar , karena di dalam kelas terdapat berbagi macam latar belakang budaya yang dimiliki oleh peserta didiknya. Agar dalam penyampaian materi pelajaran akan lebih mudah diterim oleh peserta didik.
Proses komunikasi pendidikan antara lain :
1. Komunikasi berlangsung dua arah.
2. Komunikasi horizontal.
3. Setiap individu memiliki nilai-nilai sosial budaya dan berhak menggunakan nilai-nilai itu.
4. Setiap individu memiliki kepentingan dan kemampuan yang berbeda.
5. Situasi komunikasi antar budya tidak statik.
6. Komunikasi harus memiliki tujuan yang jelas.
7. Memiliki strategi komunikasi yang tepat dn efektif untuk mencapi sasaran.
8. Variasi dalam penggunaan metode/ teknik penyajian.
Komunikasi antar manusia yang satu dengan yang lain disebut komunikasi interpersonal. Faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal :
a. Faktor situsional
• Deskripsi verbal yaitu keterangan secara verbal mengenai orang yang berkomunikasi dengan kita
• Petunjuk proksemik yaitu penggunaan jarak dlam berkomunukasi
• Petunjuk kinesik yaitu gerakan orang yang berkomunikasi dengan kita
• Petunjuk fasial atau wajah
• Petunjuk paralimguistik yaitu cara bagimana orang mengucapkan
• Petunjuk artifaktual yaitu segala macam penampilan

b. Faktor personal
• Tingkat pendidikan
• Umur
• Jenis kelamin
Didalam berkomunikasi seseorang akan mengalami yaitu :
1. Sensasi
2. Persepsi
3. Memori
4. Berpikir


DAFTAR PUSTAKA
1. Cangara, Hafidz,2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:PT RajaGrafindo Persada
2. Effendy, Onong Uchjana, Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:Grasindo.Rosdakarya
3. Littlejohn, Stephen W. 2001. Theories of Human Communication. USA: Wadsworth Publishing.
4. Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Rosda.
5. Ruben, Brent D,Stewart, Lea P, 2005, Communication and Human Behaviour,USA:Alyn and Bacon
6. Sendjaja, Sasa Djuarsa, 1994. Pengantar Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.
Situs Website
http://kampuskomunikasi.blogspot.com/2008/06/fungsi-dan-tujuan-komunikasi.html
http://one.indoskripsi.com/content/teori-pengertian-komunikasi